
Aceh Besar, 29 Oktober 2026 — Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Kinerja (Pusjar SKMK) LAN RI memfasilitasi Focus Group Discussion (FGD) bersama peneliti internasional dari Hiroshima University, Jepang, untuk membahas perubahan dan interaksi antara lokasi fasilitas perkotaan (amenity locations) dan kebutuhan mobilitas masyarakat sebelum dan sesudah bencana alam. Kegiatan ini menggali pembelajaran dari pengalaman Kota Banda Aceh dalam menghadapi perubahan perkotaan pascatsunami 2004.
FGD mengangkat tema “Changes in and Interactions Between Amenity Locations and Mobility Needs Before and After Natural Disasters”. Pembahasan berfokus pada dampak bencana terhadap persebaran fasilitas perkotaan, kebutuhan perjalanan masyarakat, serta akses terhadap layanan dan sistem transportasi.
Dalam diskusi tersebut, Ir. Muhammad Syaifuddin Ambia, S.T., M.T., dari Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, memaparkan transformasi transportasi kota setelah tsunami 2004. Pengalaman Banda Aceh menjadi konteks penting untuk memahami keterkaitan antara perkembangan wilayah, perubahan pola permukiman, dan kebutuhan mobilitas masyarakat pascabencana.
Kegiatan ini melibatkan perwakilan Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Magister Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (USK), USPI, serta sejumlah akademisi dan pakar kebencanaan. Dari kalangan internasional, hadir Prof. Makoto Chikaraishi dari Hiroshima University, Takeru Shibayama, Senior Scientist dari TU Wien, Austria, serta Wataru Nakanishi, Specially Appointed Associate Professor dari Institute of Science Tokyo, Jepang.
Melalui fasilitasi FGD ini, Pusjar SKMK LAN RI mendukung pertukaran pengetahuan antara peneliti internasional dan pemangku kepentingan daerah guna memperkaya kajian tentang mobilitas masyarakat, akses terhadap fasilitas perkotaan, dan ketangguhan menghadapi bencana. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif bagi pengembangan kajian dan kebijakan perencanaan perkotaan yang lebih tangguh terhadap bencana.